Gaya Hidup Konsumtif dan Hedonis tidak Lantas Meningkatkan Value Diri

Create by Canva

Hidup di zaman ini tidak terlepas dari gaya hidup yang konsumtif dan hedonis. Banyak berbagai kalangan menerapkan hidup demikian. Padahal semakin besar gaya maka akan semakin tinggi tekanan. Ketika gaya hidup kita mengacu pada hidup yang konsumtif dan hedonis maka akan ada tekanan yang membuat hidup kita susah. Misalnya ketika kita konsumtif dalam mengelola uang, maka sebelum pertengahan bulan kita akan bingung karena tidak memiliki uang lagi hingga akhir bulan nanti. Hingga pada akhirnya memilih untuk meminjam uang kepada orang lain, inilah tekanan yang akan terjadi akibat tingginya suatu gaya. Hal ini biasanya terjadi dikarenakan kita belum memahami apa yang menjadi kebutuhan dan mana yang hanya sekadar keinginan. 

Kebutuhan merupakan sesuatu yang kita perlukan untuk dapat bertahan hidup dalam segala kondisi. Misalnya kebutuhan biologis seperti oksigen, air, makanan dan sebagainya. Tanpa oksigen, air dan makanan seseorang akan kesulitan untuk bertahan hidup.sEdaangkaan kebutuhan fisiologis seperti rumah, pakaian dan kendaraan.

Selanjutnya yaitu keinginan, keinginan merupakan suatu hasrat atau kehendak untuk memiliki atau melakukan sesuatu akan tetapi dampaknya tidak selalu signifikan jika terpenuhi. Keinginan ini tidak akan ada habisnya. Jika satu keinginan terpenuhi, maka akan timbul keinginan lainnya. Misalnya, kita ingin membeli gawai keluaran terbaru dari produk iPhone yaitu iPhone 14, padahal kita sudah memiliki iPhone 13. Berdasarkan apa yang ingin kita penuhi yaitu untuk terlihat keren karena memiliki gawai keluaran terbaru,  kita pasti berpikir hal ini dapat meningkatkan nilai kita. Padahal tidak, nilai diri tidak dilihat dari seberapa update kita terhadap suatu kemajuan teknologi saja. 

Hidup yang konsumtif dan hedonis sangat merugikan bagi diri sendiri. Mungkin kita bisa terlihat sempurna, keren dan sebagainya di depan orang lain. Akan tetapi, hal ini akan berdampak buruk bagi diri sendiri. Kita yang mungkin tidak lahir dari keluarga kaya namun memaksakan hidup selayaknya mereka yang bergelimang harta, maka ini akan menyiksa diri sendiri. Kita yang nanti akhirnya akan susah. Rajin jalan-jalan untuk memenuhi kebutuhan instagram story meskipun minim budget hingga berakhir meminjam uang, membeli barang mewah atau barang yang sedang menjadi tren publik padahal tidak terlalu dibutuhkan, dan kegiatan konsumtif serta hedon lainnya. Tujuan hidup konsumtif dan hedonisme ini sebenarnya hanya untuk mencapai kepuasan diri yang sementara. Mengapa demikian? Karena lebih banyak kerugian dari pada keuntungan bagi kita di akhir nanti. 

Gaya hidup yang demikian haruslah kita hindari. Dr. Fahruddin Faiz menjelaskan bahwa lebih baik membatalkan satu keinginan dari pada beupaya terlalu keras mendapatkannya sampai mengorbankan banyak hal. Kita harus melepaskan perasaan yang menuntut kita untuk selalu tampil eksis dengan barang mahal, gaya hidup yang mahal dan terkenal hedon. hal ini dikarenakan, ketika kita terbebas dari gaya hidup yang demikian, maka kita akan terhindar dari hutang, kita akan lebih bebas, lebih mampu mengelola keuangan, mampu membedakan mana kebutuhan hidup dan mana gaya hidup, kita akan lebih mudah fokus untuk meningkatkan nilai diri kita dengan hal positif serta lebih mampu menjaga kesehatan mental kita.

Mereka yang memilih hidup konsumtif dan hedonis tujuan salah satunya yaitu untuk mencapai kebahagiaan. Padahal orang yang selalu mengejar kebahagiaan biasanya ialah mereka yang paling tidak bahagia. Bahagia itu sederhana, ketika kita menikmati suatu situasi dan menerima kapasitas diri tanpa mengejar jabatan, kekayaan, dan validasi, maka kita adalah orang yang bahagia. Ketika kita hidup sesuai dengan ciri khas diri kita itu bisa membangun nilai atau value diri kita. Jadi, kita tidak perlu menyiksa diri sendiri untuk tampil seperti orang lain. Bangun kualitas dan ciri khas diri kita, maka tanpa meminta validasipun kita akan tetap hidup seperti apa yang ada dalam diri kita.


Komentar

Postingan Populer