Sebuah Cerpen


BINTANG ITU JATUH TAPI TAK RAPUH

Oleh Vina Amelia Rosida




Tujuh tahun silam…

Pagi ini Bapak tampak lebih segar. Kuintip dari balik pintu, Bapak tengah sibuk merapikan rambutnya. Rambut rapi dengan belah tengah menjadi ciri khas Bapak sejak muda. Saat mulai memasuki kamar Bapak, wangi citrus mulai menyerbak hingga seluruh penjuru kamar. Aku menghampiri Bapak sembari merapikan dasiku yang miring. Aku ikut melihat pantulan diriku dan Bapak di cermin. Sejujurnya aku datang hanya untuk berpamitan pada Bapak, namun dalam sekelebat aku teringat dengan kupu-kupu yang hampir setiap hari berputar-putar di kamarku.

“Pak, ada kupu-kupu masuk ke kamar Bintang. Tadi, kemarin dan kemarinnya juga ada. Aneh ya, Pak?” ucapku pada Bapak yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Kulihat Bapak tampak bingung memahami ucapanku. “Aneh kenapa, Le?” tanya Bapak.

“Kata Mbah Kung Man, kalau ada kupu-kupu masuk rumah kan ada tamu yang mau datang. Tapi sampai sekarang tidak ada yang datang tuh. Teman Bintang tidak ada yang bermain ke sini, teman Bapak dan Ibu juga tidak ada yang datang kan?”

“Mungkin kupu-kupunya kangen dengan Bintang atau ingin mengajak Bintang bermain. Kalau Bintang tanya mana tamunya, bisa jadi kan kupu-kupu itu tamunya. Masuk akal kan, Le?” Aku mengiyakan ucapan Bapak. Lagi pula bisa jadi memang kupu-kupu itu tamu yang sekadar mampir atau memang ingin bermain denganku. Aku menarik tangan Bapak dan menyalaminya. “Bintang berangkat ke sekolah dulu, Pak.” Aku berlari meninggalkan Bapak dan mencari Ibu di dapur. Di sanalah Ibu saat ini, mengupas ubi yang dicabut dari belakang rumah kemarin.

“Bu, Bintang ke sekolah dulu ya?” pamitku pada Ibu.

“Siap, Jagoan. Nanti kalau sudah pulang sekolah langsung ganti baju dan makan siang ya. Bapak dan Ibu siang nanti akan pergi ke swalayan di kota. Ada banyak keperluan yang harus dibeli, besok kan kita ada acara selamatan.” Ibu membelai kepalaku dan mengecup pipiku. Hangat, hangat sekali.

“Oke, Ibu peri. Bintang bantu bersihkan ruang tamu ya nanti. Sekarang Bintang berangkat dulu ya? Teman-teman Bintang sudah menunggu di gang depan. Sampai jumpa, Ibu.”

“Sampai jumpa, Jagoan Ibu.”

***

Juli 2024

Aku mengetuk-ngetuk peti kecil yang usang dan berdebu, entah milik siapa aku tidak tahu. Kucari kain kuning lusuh yang biasa digunakan orang rumah untuk mengelap piala atau pigura. Aku bertanya-tanya, apa isi peti ini, lalu di mana kunci untuk bisa membuka peti ini?

“Sedang apa, Le?” Aku tersentak dengan kehadiran Bapak yang tiba-tiba masuk ke gudang rumah kami.

“Mencari kain pel, Pak. Bapak sudah pulang? Ibu mana?” tanyaku pada Bapak yang ikut duduk di hadapanku. Bapak masih belum menjawab namun tangannya ikut meraba peti ini lalu tersenyum.

“Ibumu ada di hatimu, Le. Kamu penasaran kan dengan isi peti ini? Ayo kita buka peti ini!”

Aku semakin bertanya-tanya, apa maksud Ibu ada di hati? Bukankah Ibu pergi dengan Bapak tadi pagi? Aku tidak berkata apapun, aku hanya mengawasi gerak-gerik Bapak yang ke sana kemari mencari sesuatu. Aku sengaja tidak bertanya atau membantu, aku pun bingung dengan tindakan Bapak yang tiba-tiba.

Beberapa menit kemudian Bapak kembali membawa gantungan kupu-kupu di tangannya. Aku terheran ketika sayap kupu-kupu itu dibuka lalu muncul kunci berukuran kecil. “Apa itu kunci peti ini, Pak?” tanyaku penasaran. Bapak mengangguk lalu memberikan kunci itu padaku. Aku mengerti jika Bapak sengaja memintaku untuk membukanya. Kubuka peti itu dengan rasa penasaran yang melambung sehingga tumbuh berbagai pertanyaan.

“Ini apa, Pak?” Aku mengeluarkan patahan sayap kupu-kupu. Aku mengamatinya dan menatap Bapak bergantian. “Aku tidak paham, Pak. Apa,...”

“Ibumu, ini replika kupu-kupu kesayangan Ibumu. Bapak sengaja menyimpannya karena suatu saat akan Bapak tunjukkan kepadamu, Le,” sahut Bapak.

“Maksud Bapak apa? Bintang sama sekali tidak paham maksud Bapak. Jika Bapak ingin menunjukkannya padaku, mengapa baru sekarang? Lantas sekarang di mana Ibu? Bukannya Ibu tadi pergi dengan Bapak? Mana Ibu?” Aku bahkan tidak sadar menodong banyak petanyaan pada Bapak.

Pertanyaan demi pertanyaan terlontar untuk Bapak. Namun Bapak hanya tertawa dengan sangat tidak biasa, aku tidak tahu maksud tawa itu. “Bapak,” panggilku.

“Maafkan Bapak ya, Le. Bapak gagal menahan Ibumu.”

“Ibu pergi ke mana, Pak?”

“Ibumu sudah lama pergi, Le. Ibumu yang sekarang bukan Ibumu yang dulu. Bapak tidak bisa membawa Ibumu pulang. Bapak gagal, Le.” Berkali-kali aku juga masih gagal menangkap maksud ucapan Bapak.

“Bapak bisa jelaskan semua dari awal? Jujur Bintang sama sekali tidak paham, Pak.”

“Ibumu meninggal setelah melahirkan kamu, Le. Seharusnya Ibumu perlu dibawa ke rumah sakit di kota, tapi maafkan Bapak karena kondisi keuangan yang lemah saat itu jadi harus merenggut nyawa Ibumu. Jangan benci Bapak ya! Bapak tidak sanggup menerima tatapan benci dari anak sendiri, sudah cukup jatah dibenci itu Bapak terima di masa muda Bapak.” Aku masih mencerna ucapan Bapak dan membiarkan Bapak menyelesaikan penjelasannya.

“Bapak menikah lagi setelah dua bulan kepergian Ibumu. Semua orang menyudutkan Bapak, Le. Semua orang membenci Bapak. Padahal mereka tidak tahu bagaimana sulitnya Bapak setelah kepergian Ibumu. Mereka tidak tahu betapa cintanya Bapak dengan Ibumu. Dua bulan setelah Ibumu pergi, Bapak bertemu dengan Ibumu yang sekarang. Pertama kali Bapak melihat Ibumu, Bapak punya firasat baik kalau dia akan mencintai kamu dengan penuh seperti kamu jantung hatinya sendiri. Bapak benar kan, Le? Bapak tidak salah memilih Ibu untukmu kan?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Setelah lebih dari belasan tahun tidak mengetahui ini, kini aku tidak tahu harus memberikan validasi pada perasaan yang mana. Aku seperti merasa sedih, kecewa dan bahagia dalam satu waktu. Sedih karena tahu ternyata Ibu kandungku sudah lama pergi dariku, terlebih realita bahwa kemungkinan Ibu pergi karena mengorbankan dirinya agar aku tetap hidup. Aku juga kecewa karena aku tidak pernah tahu bahwa aku melupakan Ibu kandungku dan Bapak yang tidak pernah memberitahu ini padaku. Di sisi lain aku bahagia karena mendapatkan cinta yang sebesar ini dari Bapak. Meski Bapak tahu bahwa karena aku Ibu meninggal. Juga perasaan bahagia karena mendapatkan cinta yang indah dari perempuan asing yang menyandang status sebagai Ibuku.

“Pak, Bintang minta waktu untuk sendiri dulu. Bintang harus memberikan validasi pada setiap emosi Bintang saat ini. Bintang ke kamar dulu ya, Pak,” ujarku pada Bapak. Kuberikan patahan sayap itu di atas telapak tangan Bapak. Kubiarkan Bapak menggenggam dan mendekapnya.

***

Sudah terhitung dua hari berturut-turut, aku tidak bergabung dengan Bapak dan Ibu untuk sekadar sarapan atau berkumpul di ruang tamu. Aku memilih makan di luar dan menghabiskan waktu di rumah Ibu. Rumah Ibu yang baru aku ketahui adanya. Rumah yang tidak pernah kukunjungi atau bahkan kudoakan ketenangannya. “Ibu suka kupu-kupu ya?” tanyaku pada gundukan tanah yang indah dengan taburan bunga segar di atasnya. Di samping nisan juga ada karangan bunga yang indah, aku yakin Bapak juga tidak pernah absen mengunjungi Ibu.

“Jadi, ternyata kupu-kupu yang sering datang ke kamar Bintang dan hinggap di taman depan rumah itu Ibu ya? Waktu Bintang masih kecil, Bapak bilang kalau kupu-kupu datang, bisa jadi karena kangen atau ingin bermain dengan Bintang. Terima kasih ya, Bu, sudah sering menyapa dan mengajak Bintang bermain. Ibu jangan bosan mampir ke rumah ya, sesekali kalau Ibu mampir di mimpi Bintang juga tidak apa, dalam wujud kupu-kupu dan bukan wajah cantik Ibu pun sangat tidak apa.”

“Bu, maafkan Bintang ya? Bintang baru tahu fakta ini saat Bintang sudah besar. Bertahun-tahun Bintang tidak pernah berdoa untuk Ibu atau datang menjenguk Ibu. Semoga Bintang tetap bisa dapat surga ya, meski Ibu sudah tidak bersama Bintang. Bintang juga janji, setelah ini akan kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya, bahkan jauh lebih baik. Bintang akan menjaga Bapak dan Ibu seperti biasanya.” Aku berusaha untuk tidak menangis namun aku gagal. Sudah berkali-kali aku mengusap air mataku dan itu tidak bisa berhenti. Perasaan bersalah pada Ibu terus berkelebat di kepalaku.

“Bintang beruntung kan, Bu? Saat Ibu pulang lebih dulu, ada istri Bapak yang bisa mengisi kekosongan peran Ibu di hidup Bintang. Meskipun Bintang belum pernah melihat bagaimana cantiknya Ibu, tapi Ibu tidak bisa tergantikan dengan perempuan lain. Kedua Ibu Bintang punya posisi masing-masing di hati Bintang. Terima kasih Ibu sudah melahirkan Bintang. Bintang bersyukur bisa lahir dan menjadi anak Ibu. Ibu yang tenang ya di sana!”

Lagi-lagi aku tidak bisa menahan air mataku. Kesedihan disertai fakta kebahagiaan, secara bersamaan membuat luka ini semakin mendalam. Aku ingin menolak fakta bahwa Ibu sudah tidak ada sejak aku kecil, tapi aku sudah seharusnya bersyukur meskipun sebagai anak piatu, aku tidak kehilangan kasih sayang seorang Ibu. Sedih, marah, kecewa terasa sangat nyata, tapi bukankah yang terpenting adalah tetap bertahan dan menjalankan kehidupan dengan sebaik-baikknya.

Kuusap nisan Ibu dan merapal sebuah doa. Setelah itu aku akan pulang dan memeluk Bapak juga berterima kasih pada Ibu. Sesampainya di rumah, aku mencari Bapak dan Ibu yang ternyata sedang menangis di ruang tamu. Mengetahui kedatanganku, Ibu segera berlari dan memelukku. “Mungkin Ibu bukan perempuan yang melahirkan Bintang, tapi Bintang adalah jagoan dan putra satu-satunya yang sangat Ibu sayang. Jangan benci Ibu ya?”

“Maafkan Bapak juga. Seharusnya Bapak memberitahu Bintang sejak lama. Maafkan Bapak.”

Aku merasakan dekapan hangat Bapak dan Ibu. Kasih sayang yang menumpuk dan tulus itu masih sama, tidak berkurang. “Ini bukan salah Bapak dan Bapak benar, pilihan Bapak sudah tepat. Bintang bangga dengan Bapak. Terima kasih ya, Pak. Bintang juga bangga dengan Ibu. Terima kasih sudah menerima Bintang menjadi putra kesayangan Ibu.”

Rasa syukurku tumbuh dan membuahkan kebahagiaan yang tak terkira. Perasaan kecewa itu perlahan memudar dan berganti menjadi senyuman yang sangat berarti. Aku sadar bahwa aku berhak sedih, marah, tapi tidak baik membiarkan rasa itu menutup berbagai pintu kebahagiaan lainnya. Bintang memang jatuh tapi ia tidak rapuh, ia semakin kuat dan mampu bertahan untuk hidup yang lebih lama.

Selesai 

Catatan:

Le: Panggilan khas dalam masyarakat Jawa yang diperuntukkan untuk anak laki-laki.


Komentar

Postingan Populer