Puisi "Dunia dalam Permainan Kehidupan"

Kematian Harapan-harapan

Oleh: Klasik Rose


Tiba,

Kala ku berteriak tapi tak berwujud suara

Hati menjerit histeris, tapi terpaksa terbungkam

Di mana rumah-rumah indah nan megah berwujud peti mati berbau anyir

Di sana, nun jauh dari kacamata

Tak kujumpa ladang-ladang cerita berbicara

Di balik ruang tak bernyawa

Kendati mati sekalipun dikehendaki

Jiwa-jiwa resah tak berkesudahan, merasa payah, dipeluk amarah, semakin bertambah

Ribuan ego berdalih tanpa pamrih

Sementara lubang-lubang digali seolah yang hidup telah mati

Tiada henti, tiada tapi

Harapan itu telah mati



Aku Kalah dalam Permainan Binatang Berwujud Manusia

Oleh: Klasik Rose


Kemarin dan kemarinnya lagi kupersiapkan dengan semangat yang membara

Kerja keras terhitung mendekati tuntas

Namun tak berlaku hukum tabur tuai dan semacamnya

Satu, dua dan tiga bukan salah satu namaku yang tertera

Nilaiku seberapa ya? tanyaku

Jika itu seratus atau sembilan puluh sembilan dan di bawahnya sedikit, apa masih terbaca?

Terbiasa berjinjit, membuat ujung-ujung kaki terasa sakit

Tak peduli seberapa lama sakitnya, lebih utama bagaimana bisa setara

Terus menatap langit-langit dan menanti akan ada pelangi

Tapi lupa leher terasa terkilir, seperti tak lagi menyatu dengan raga

Bukankah aku tetap tak setara jika ini sebuah lomba?



Barangkali Musuhku adalah Diriku Sendiri

Oleh: Klasik Rose


Beberapa waktu lalu

Kuhabiskan jatah malas-malasanku dengan padu

Pagi menghalu, malam kehabisan jatah untuk merayu

Hari-hari sesak dengan rasa kelu

Tak mau kalah, tak ingin terlihat lemah

Tapi barang melangkah untuk kata menang saja, tak pernah

Bagaimana aku tak ragu, dengan diri sendiri saja aku tak setuju



Surat Terbuka untuk Para Nahkoda

Oleh: Klasik Rose


Telah lama kami tuliskan harapan kami dengan rapi

Dalam barisan kalimat yang lengkap dan hangat

Dengan harapan dinikmati dan dicermati

Meski tampak sedikit memaksa, tapi cukup untuk menarik simpati, jika memiliki empati

Jatuh dan bangun, kami sendirian

Kami sering tak dapat jatah kursi, tapi kami tidak sensi

Kami sering diombang-ambingkan hingga kami tidak sadar telah dipermainkan

Dijanjikan kenyamanan tapi tak pernah dinyatakan

Kami mungkin tampak tak serius saat memilih kapal

Tapi bisakah tetap mengemudi sesuai sistem yang berkeadilan

Jika memilah-milah berdasarkan siapa yang pantas

Bukankah itu bagian dari kesenjangan dalam bentuk pemikiran?



Saya Pantas, Kata Orang yang Tak Paham

Oleh: Klasik Rose


Saya sudah membantu, sudah seharusnya saling membantu

Saya sudah sisakan waktu, sudah seharusnya kamu datang saat saya perlu

Saya sudah bersedia menyanjung, padahal saya terbiasa disanjung

Saat klausa “siapa yang lebih pantas” berada dalam sebuah pertanyaan

Jawabannya, siapa lagi kalau bukan saya


Komentar

Postingan Populer